NRLA Macaca
Ringkasan
Berdasarkan penilaian status nasional genus Macaca di Indonesia, terlihat adanya pola yang beragam antara status global IUCN dan status nasional. Perbedaan ini terutama dipengaruhi oleh kondisi populasi lokal, luas sebaran aktual di Indonesia, serta keberadaan atau ketiadaan subpopulasi introduksi. Spesies dengan status global dan nasional yang sama mencakup Macaca pagensis, M. siberu, M. nigra, dan M. maura. Keempatnya tetap berada dalam kategori terancam tinggi (CR atau EN) baik secara global maupun nasional. Hal ini mencerminkan konsistensi antara ancaman global dan kondisi riil di Indonesia, seperti penurunan populasi, hilangnya habitat, tekanan perburuan, serta distribusi geografis yang sangat terbatas. Dua spesies mengalami penurunan tingkat ancaman (downgraded) dalam asesmen nasional. Macaca nemestrina, berstatus EN secara global namun VU secara nasional. Hal ini karena populasi di Indonesia relatif stabil, memiliki sebaran luas, dan menunjukkan kemampuan adaptasi tinggi. Macaca fascicularis bahkan menunjukkan perbedaan paling mencolok, dari EN global menjadi LC nasional, karena populasinya di Indonesia justru meningkat, sering menjadi hama, dan tidak memiliki tekanan perdagangan yang signifikan di tingkat nasional. Sebaliknya, lima spesies mengalami kenaikan tingkat ancaman (upgraded) dalam status nasional: Macaca nigrescens, M. hecki, M. tonkeana, M. ochreata, dan M. brunnescens semuanya berubah dari VU global menjadi EN nasional. Peningkatan ancaman ini terutama didorong oleh AOO yang jauh lebih kecil ketika dihitung pada skala nasional, fragmentasi habitat yang parah, serta intensitas perburuan dan konflik manusia–satwa yang lebih tinggi dibandingkan estimasi global. Untuk M. brunnescens, misalnya, AOO yang hanya 20 km² dan kehilangan habitat cepat menjadikannya lebih terancam di Indonesia.
