Konferensi Perdana IdSSG 2026: Menyatukan Para Ahli untuk Konservasi Spesies Indonesia
20–22 Agustus 2026, Universitas Pakuan, Bogor
IUCN SSC Indonesia Species Specialist Group (IdSSG) sukses menggelar Konferensi dan Pertemuan Anggota tatap muka perdana pada 20–22 Agustus 2026. Berkolaborasi dengan Universitas Pakuan dan Belantara Foundation, acara ini mempertemukan para ahli, akademisi, mitra, dan pemerintah untuk membahas arah konservasi Indonesia.
Pembukaan & Keynote Speaker
Konferensi dibuka oleh Dr. Sunarto sebagai Co-Chair IUCN IdSSG, Prof. Dr. Sri Setyaningsih selaku Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, Dr. Ahmad Munawir sebagai Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Dr. Iman Wahyudin sebagai Ketua Tim Kerja Perlindungan Spesies dan Genetik, dan Ir. Inge Retnowati selaku Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati).
Dalam sambutannya, Dr. Ahmad Munawir menyampaikan target ambisius penambahan status keterancaman spesies, di mana keberadaan IdSSG dinilai sangat membantu melalui rencana National Red List Assessment (NRLA) untuk Macaca, kucing kecil–medium, Hylobatidae, dan Varanus.
Salah satu momen yang berkesan adalah peluncuran Website NRLA oleh Yokyok Hadiprakarsa (Advisor IUCN SSC IdSSG). Website ini akan terintegrasi dengan data IUCN global dan menjadi basis data assessment spesies Indonesia ke depan. Sesi pemaparan kemudian menghadirkan sejumlah pembicara:
- Prof. Mirza D. Kusrini (Co-Chair IUCN IdSSG) yang memperkenalkan IdSSG dan rencana ke depannya
- Dr. Satrio Wicaksono (IUCN Asia) mengenai “Co-creating conservation success in Indonesia”
- Sheherazade (PROGRES Sulawesi) tentang keterlibatan anak muda dalam konservasi di Sulawesi
- Dr. Rizki Kurnia Tohir (ITERA) mengenai proses assessment amfibi
- Akbar A. Digdo (YAPEKA) tentang isu strategis konservasi laut
- Dwi Nugroho Adhiasto mengenai perdagangan satwa liar ilegal
Rapat Advisor & Anggota
Sebagai bagian dari rangkaian pertemuan, IdSSG menggelar Rapat Advisor dan Rapat Anggota. Rapat Advisor membahas program dan resource mobilization. IdSSG sendiri telah berproses sejak 2019 dan resmi terbentuk pada 2023, kini dengan 176 anggota. Kegiatannya mencakup Assess, Plan, Act, serta Networking & Communicate, yang tercermin dalam sejumlah publikasi ilmiah di Oryx.
Ke depan, IdSSG berencana mengembangkan green status of species assessment dan mempersiapkan NRLA untuk kuda laut, burung paruh bengkok, raptor, dan kura-kura air tawar. Diskusi menyoroti sejumlah hal penting: kesenjangan takson pada spesies akuatik dan invertebrata, perlunya kesamaan persepsi antara pemerintah dan IdSSG terkait data assessment, serta pentingnya legalitas kelembagaan. Kesenjangan ini juga terlihat dari capaian NRLA, di mana dari target 20.000 spesies baru tercapai 1.500, sehingga muncul usulan pendekatan issue-based.
Rapat Anggota sehari setelahnya menjadi ajang berbagi kabar dari para anggota. Sejumlah capaian dan rencana mengemuka, mulai dari pembentukan NRLA dan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) berbagai spesies, hingga pembentukan Forum Jejak Owa untuk Hylobatidae. Di sisi lain, muncul kebutuhan mendesak akan Training for Trainers (TFT) agar semakin banyak orang yang bisa melakukan assessment, mengingat masih kurangnya ahli pada taksa tertentu dan daerah timur. Beberapa inisiatif juga dibagikan para anggota, seperti early warning system berbasis AI untuk deteksi gajah, assessment mamalia kecil dan marsupial, serta assessment 192 spesies Mollusca.
Seminar dan Presentasi Poster
Seminar tematik dan presentasi poster turut memeriahkan acara. Seminar dibagi ke dalam lima kategori IUCN: Assess, Act, Plan, Network, dan Communicate. Para presenter datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari riset dan penilaian status spesies hingga kerja lapangan, jejaring, dan komunikasi publik. Presentasi ini menjadi wadah bagi peserta untuk mendapatkan pengetahuan baru dan belajar dari bidang keahlian lain.
Conservation Cafe
Pada 22 Agustus 2026, rangkaian pertemuan IdSSG ditutup dengan sesi Conservation Cafe, yang membahas tiga topik utama: NRLA Sumatra yang mencakup berbagai taksa endemik Sumatra; keanggotaan & kelembagaan yang mempertimbangkan perluasan target anggota; serta penggalangan sumberdaya yang menjajaki berbagai skema pendanaan untuk kebutuhan program dan operasional IdSSG. Ketiga topik ini membuka ruang diskusi bagi IdSSG untuk memperkuat kelembagaan, keanggotaan, dan pendanaannya ke depan.
Semoga semangat kolaborasi dari pertemuan ini terus berlanjut menjadi langkah nyata melalui penguatan kapasitas, pengembangan National Red List Assessment, serta penguatan kemitraan dan kelembagaan IdSSG ke depan. Terima kasih kepada Universitas Pakuan, Belantara Foundation, para pembicara, advisor, anggota, dan seluruh peserta atas partisipasi dan kontribusinya.
